Membaca Secara
Sama, Memaknai Secara Berbeda
Pornografi merupakan salah satu sisi
yang melekat pada kehidupan manusia. Namun, anggapan banyak orang yang mengaitkan
pornografi dengan hal-hal negatif perlu untuk dihindari. Pornografi erat kaitannya
dengan hal-hal visual yang vulgar, namun apakah porno selalu berhubungan dengan
hal-hal visual? Bisakah ia merasuk dalam dunia tulis-menulis dan membawa orang
pada imajinasi kenikmatan?
Media informasi merupakan dunia yang
sudah lazim saat ini. Google, sebagai situs pencarian paling terkenal, berhasil
mendapatkan kata kunci ‘cerita dewasa’ sebanyak 19.300.000 hasil dan kata kunci
‘cerita porno’ sebanyak 1.420.000 hasil. Luar biasa, tampaknya porno(grafi)
mampu menembus hingar-bingar keindahan karya sastra dan tersulap menjadi bagian
dari keindahan sastra yang sarat akan pemaknaan tertentu. Cerita dewasa
merupakan karya yang mampu mendorong daya imajinasi serta membawa orang sampai
ke level kenikmatan tertentu. Di sisi lain, banyak orang berlomba-lomba untuk
membela sarana baru dalam sebuah karya sastra, yaitu sastra cyber. Sastra cyber ialah terobosan baru untuk terjun dalam dunia kesusastraan
melalui media maya, tanpa perlu memikirkan proses percetakan, dengan jaminan
kuantitas pembaca yang lebih besar. Mereka menganggap bahwa dunia cyber merupakan dunia yang murah, mudah,
dan efisien sebagai sarana ‘pewartaan’ karya-karya sastra.
Dua tegangan ini tampaknya perlu
didamaikan. Di satu sisi, porno(grafi) dengan mudah didapat melalui media maya
dan sekarang telah masuk ke dalam kesusastraan. Di sisi lain, orang menganggap
bahwa sastra cyber merupakan sebuah
jalan baru dunia sastra yang menjanjikan sebuah kemudahan dan kecepatan. Dengan
realita ini, penikmat sastra perlu menentukan posisinya.