Senin, 02 November 2015

Pada kesempatan kali ini, aku ingin berbagi tulisanku yang pada akhirnya tidak diikutkan dalam sebuah seminar karena suatu alasan (bukan karena tidak diterima lho.. :P) ...semoga, dapat menikmati...

Membaca Secara Sama, Memaknai Secara Berbeda
Pornografi merupakan salah satu sisi yang melekat pada kehidupan manusia. Namun, anggapan banyak orang yang mengaitkan pornografi dengan hal-hal negatif perlu untuk dihindari. Pornografi erat kaitannya dengan hal-hal visual yang vulgar, namun apakah porno selalu berhubungan dengan hal-hal visual? Bisakah ia merasuk dalam dunia tulis-menulis dan membawa orang pada imajinasi kenikmatan?
Media informasi merupakan dunia yang sudah lazim saat ini. Google, sebagai situs pencarian paling terkenal, berhasil mendapatkan kata kunci ‘cerita dewasa’ sebanyak 19.300.000 hasil dan kata kunci ‘cerita porno’ sebanyak 1.420.000 hasil. Luar biasa, tampaknya porno(grafi) mampu menembus hingar-bingar keindahan karya sastra dan tersulap menjadi bagian dari keindahan sastra yang sarat akan pemaknaan tertentu. Cerita dewasa merupakan karya yang mampu mendorong daya imajinasi serta membawa orang sampai ke level kenikmatan tertentu. Di sisi lain, banyak orang berlomba-lomba untuk membela sarana baru dalam sebuah karya sastra, yaitu sastra cyber. Sastra cyber ialah terobosan baru untuk terjun dalam dunia kesusastraan melalui media maya, tanpa perlu memikirkan proses percetakan, dengan jaminan kuantitas pembaca yang lebih besar. Mereka menganggap bahwa dunia cyber merupakan dunia yang murah, mudah, dan efisien sebagai sarana ‘pewartaan’ karya-karya sastra.
Dua tegangan ini tampaknya perlu didamaikan. Di satu sisi, porno(grafi) dengan mudah didapat melalui media maya dan sekarang telah masuk ke dalam kesusastraan. Di sisi lain, orang menganggap bahwa sastra cyber merupakan sebuah jalan baru dunia sastra yang menjanjikan sebuah kemudahan dan kecepatan. Dengan realita ini, penikmat sastra perlu menentukan posisinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar