Kamis, 18 Februari 2016

BI(A)SA

Karena yang biasa tak lagi berbisa


Doa. Doa merupakan sarana untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Di dalam doa, terkandung unsur; syukur, permohonan dan harapan yang dimiliki oleh manusia kepada Tuhannya. Bapa Kami ialah salah satu doa andalan bagai orang Kristiani. Doa Bapa Kami ialah doa yang diajarkan oleh Yesus sendiri kepada murid-murid-Nya. Doa ini diharapkan mampu merangkum seluruh perjalan hidup manusia yang sedang berjuang di tengah dunia. Sering kita dengar diakhir doa spontan atau doa pribadi; bahwa si pendoa mengatakan bahwa, “Doa yang kurang sempurna ini, kami sempurnakan dengan doa yang Engkau ajarkan sendiri. “. Biasanya, setelah kalimat ini didoakan para peserta doa langsung mengerti, doa apa yang harus didoakan sebagai doa yang dapat menyempurnakan segala permohonan dan pengharapan.
Setelah aku merenungkan, banyak dari antara kita, terutama orang Katolik lupa bahwa doa Bapa Kami ialah Doa berbisa [1]. Mengapa aku sebut berbisa? Aku mencoba dengan analogi ular. Bebebrapa diantara kita, seringkali takut jika menjumpai ular di sekitar kita. Rasa takut itu timbul karena kita beranggapan bahwa ular mempunyai bisa yang dapat membuat kita lumpuh, bahkan mati. Gigitan ular yang mengandung bisa, tentu akan dengan cepat merasuk ke dalam darah kita dan sudah dipastikan reaksi yang akan cepat berjalan.
Analogi ular tersebut aku tempatkan dalam konteks doa Bapa Kami. Doa Bapa Kami ialah doa yang sempurna, karena telah Yesus sendirilah yang mengajari kita berdoa. Semestinya, kesempurnaan doa itu memiliki pengaruh dan makna yang besar bagi siapa saja yang mendoakannya.  Namun, seringkali kita luput akan kesempurnaan doa tersebut. Kita hanya mendoakan dibibir saja, tanpa ada penghayatan di dalam mengucapkan doa itu. Coba kita hitung, berapa kalikah selama sehari kita mendoakan doa Bapa Kami? Mungkin ada yang lebih dari 5 kali, ada yang kurang dari 5 kali, ada yang mendoakan hanya dalam acara-acara tertentu atau bahkan ada yang tidak berdoa.
Pertanyaanku untuk diriku dan untuk teman-temanku, apakah doa Bapa Kami masih mempengaruhi hidup kita? Apakah doa Bapa Kami ini masih menjadi doa yang sempura untuk kita? Sama seperti ketika kita berjumpa dengan ular yang berbisa, apakah bisa itu masih bisa mempengaruhi diri kita? Ataukah justru, kita sudah merasa kebal dan sempurna, melebihi kesempurnaan doa yang diajarkan oleh Yesus sendiri.
Semoga, kita tidak jatuh pada sebuah keterbiasaan yang mungkin memang sudah sering kita lakukan, terutama dalam berdoa. Selain itu, marilah mulai sekarang kita benar-benar berdoa dan menghayati setiap kata yang tertuang di dalam doa Bapa Kami.
Amin.



[1] baca: mempunyai makna, berpengaruh.

Selasa, 09 Februari 2016


Pahlawan-pahlawan Bertopeng

Akhir-akhir ini, aku menemukan beberapa pahlawan bertopeng pembela ‘kebenaran’(menurut mereka) yang bergerak dalam bidang cara hidup jemaat terpanggil. Meraka hadir di saat telah berada di luar tembok jemaat terpanggil itu. Mereka telah merasa menang, karena telah menemukan cara hidup baru dan berhasil pergi dari rumah persemaian itu. Entah mengapa, mereka hadir secara tiba-tiba dengan membawa panji ‘perang’ terhadap orang-orang yang dianggap tidak ‘beres’ di seminari.
Dalam beberapa kasus, kehadiran mereka bukan tanpa misi. Mereka hadir dengan kekuatan dan kecurigaan penuh, untuk :
  1.  Menyantlap orang-orang yang dianggap tidak ‘beres’
  2.  Mengkompilasi segala kesalahan atau perbuatan yang dianggap menyimpang, sehingga menjadi kesalahan yang besar
  3.  Mengecap orang-orang sebagai badut karena orang-orang tersebut hanya masuk dalam aliran ABS (Asal Bapak Senang)
  4.  Ngrasani orang-orang yang tidak sepaham dan sepikir dengan mereka.
  5.   Dll

Keberanian mereka sebagai seorang pahlawan patut diacungi jempot, kerena mereka begitu kepo dengan orang-orang yang menjadi target mereka. Mereka selalu haus dan lapar akan segala informasi tentang orang-orang tersebut.
Maka, sebagai orang anonim yang merasa terpesona dengan karakter dan cara kerja mereka, aku mau memohon dan berdoa supaya Allah selalu menyertai mereka dalam setiap usaha yang mereka lakukan.

Tuhan Terkasih, aku sangat bersyukur atas rahmat yang boleh aku rasakan sampai saat ini
Di tengah-tengah kami, telah ada para pahlawan bertopeng
Kami mohon ya Tuhan, lindungilah mereka, sertailah mereka
Bapa yang Maha Kasih, ingatkanlah mereka selalu jika mereka lupa, supaya mereka;
Melepaskan topeng-topeng yang bertujuan untuk pencitraan semata
Menuntun orang-orang yang sedang dalam kegelapan, bukan malah justru semakin menjauhkan mereka dari cahaya sinar KasihMu
Menggendong orang yang sedang lumpu dalam menapaki pemurnian panggilan hidup, bukan malah justru melemparkan mereka ke jurang
Bersyukur, atas pengalaman yang telah di dapatkan, bukan malah sibuk menjelek-jelekan orang lain
Tuhan, doa yang kurang sempurna ini, aku mohon Kau sempurnakan dengan doa yang Engkau ajarkan sendiri. Bapa Kami. Amin.