BI(A)SA
Karena yang biasa tak lagi berbisa
Doa. Doa merupakan sarana untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Di dalam
doa, terkandung unsur; syukur, permohonan dan harapan yang dimiliki oleh
manusia kepada Tuhannya. Bapa Kami ialah salah satu doa andalan bagai orang
Kristiani. Doa Bapa Kami ialah doa yang diajarkan oleh Yesus sendiri kepada
murid-murid-Nya. Doa ini diharapkan mampu merangkum seluruh perjalan hidup
manusia yang sedang berjuang di tengah dunia. Sering kita dengar diakhir doa
spontan atau doa pribadi; bahwa si pendoa mengatakan bahwa, “Doa yang kurang
sempurna ini, kami sempurnakan dengan doa yang Engkau ajarkan sendiri. “.
Biasanya, setelah kalimat ini didoakan para peserta doa langsung mengerti, doa
apa yang harus didoakan sebagai doa yang dapat menyempurnakan segala permohonan
dan pengharapan.
Setelah aku merenungkan, banyak dari antara kita, terutama orang
Katolik lupa bahwa doa Bapa Kami ialah Doa berbisa [1].
Mengapa aku sebut berbisa? Aku mencoba dengan analogi ular. Bebebrapa diantara
kita, seringkali takut jika menjumpai ular di sekitar kita. Rasa takut itu
timbul karena kita beranggapan bahwa ular mempunyai bisa yang dapat membuat
kita lumpuh, bahkan mati. Gigitan ular yang mengandung bisa, tentu akan dengan
cepat merasuk ke dalam darah kita dan sudah dipastikan reaksi yang akan cepat
berjalan.
Analogi ular tersebut aku tempatkan dalam konteks doa Bapa Kami. Doa
Bapa Kami ialah doa yang sempurna, karena telah Yesus sendirilah yang mengajari
kita berdoa. Semestinya, kesempurnaan doa itu memiliki pengaruh dan makna yang
besar bagi siapa saja yang mendoakannya. Namun, seringkali kita luput akan kesempurnaan
doa tersebut. Kita hanya mendoakan dibibir saja, tanpa ada penghayatan di dalam
mengucapkan doa itu. Coba kita hitung, berapa kalikah selama sehari kita
mendoakan doa Bapa Kami? Mungkin ada yang lebih dari 5 kali, ada yang kurang
dari 5 kali, ada yang mendoakan hanya dalam acara-acara tertentu atau bahkan
ada yang tidak berdoa.
Pertanyaanku untuk diriku dan untuk teman-temanku, apakah doa Bapa
Kami masih mempengaruhi hidup kita? Apakah doa Bapa Kami ini masih menjadi doa
yang sempura untuk kita? Sama seperti ketika kita berjumpa dengan ular yang
berbisa, apakah bisa itu masih bisa mempengaruhi diri kita? Ataukah justru,
kita sudah merasa kebal dan sempurna, melebihi kesempurnaan doa yang diajarkan
oleh Yesus sendiri.
Semoga, kita tidak jatuh pada sebuah keterbiasaan yang mungkin
memang sudah sering kita lakukan, terutama dalam berdoa. Selain itu, marilah
mulai sekarang kita benar-benar berdoa dan menghayati setiap kata yang tertuang
di dalam doa Bapa Kami.
Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar