Rabu, 16 September 2015

Relasi dan Ngrasani

Dua dunia yang saling berdekatan…

Akhir-akhir ini, tempat di mana aku tinggal dan menghabiskan setiap malamku muncul berita-berita yang kurang mengenakan. Banyak orang menyinggung masalah relasi. Banyak orang sedang menikmati bergosip tentang kerelasian yang dialami oleh para penghuni tempat persemaian ini. Mereka seolah-olah menemukan eksistensinya sebagai seorang laki-laki yang bisa bergosip layaknya seorang perempuan pada umumnya.
Pada prinsipnya, relasi bukanlah sesuatu yang salah, bukan sesuatu yang jahat. Relasi ialah sarana untuk menghubungkan satu orang dengan orang yang lain. Alat dari relasi itu sendiri ialah komunikasi, entah komunikasi dalam bentuk tulisan maupun verbal. Relasi memungkinkan orang mengalami kepenuhan diri; saling melengkapi satu sama lain. Dalam berelasi kita juga bisa belajar banyak hal; membagikan pengalaman kita, menerima pengalaman orang lain yang bisa jadi berguna untuk diri kita sendiri.
Sayang, keindahan sebuah relasi sedikit terusik dengan “budaya” yang sudah terlanjur menjamur di tengah masyarakat. Budaya ngrasani . Budaya ini tampaknya sudah sangat sulit dihapuskan dari keagungan relasi. Jauh di lubuk hatiku, sebenarnya aku bertanya-tanya; mengapa ada budaya ngrasani? Apa fungsi dan kegunaan dari ngrasani? Mungkin pertanyaan semacam ini sedikit sok suci, karena dalam melakukan tindakan ngrasani kita tidak pernah berpikir sampai di situ. Ya, karena kita terlalu asik dengan ngrasani.
Lalu, apa kaitannya relasi dan ngrasani? Pertama, huruf terakhir dari kedua kata ini adalah ‘i’. Kedua, ngrasani bisa dianalogikan sebagai “garam” yang mampu menciptakan rasa yang lebih kentara. Ia dapat membuat hubungan relasi lebih “mendalam” dan mampu menjadi materi pembicaraan dikala sedang krisis bahan diskusi. Ketiga, ngrasani dapat menjadi tanda bahwa orang tersebut sedang mengalami sindrom iri hati. Keempat, ngrasani juga dapat menjadi kesempatan untuk berlatih membuat cerpen. Mungkin karena mereka males menulis atau mengetik, maka ekspresi mereka disalurukan melalui dunia verbal. Kelima, ngrasani juga merupakan usaha untuk lebih mendalami tentang dunia perkepoan di dunia maya. Kita tidak bisa memungkiri bahwa saat ini dunia maya menjadi tolak ukur status hidup, status hati, bahkan status relasi dengan orang lain. Maka, tidak heran para pelaku ngrasani memanfaatkan media ini.
Demikianlah pemaparan dari saya mengenai dunia relasi dan ngrasani. Dengan segala kerendahan hati, saya mohon maaf apa bila ada salah-salah kata atau ketik dalam tulisan ini. Semoga tulisan semakin menyadarkan kita bagaimana harus bersikap. Sengaja, saya tidak memberikan kesimpulan yang amat jelas dari tulisan ini, hal ini dimaksudkan supaya teman-teman dapat merenungkan secara pribadi dan dibawa dalam doa.

Mengapa kita lebih mudah ngrasani, daripada berefleksi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar