Relasi dan Ngrasani
Dua dunia yang saling berdekatan…
Akhir-akhir ini, tempat di mana aku tinggal dan
menghabiskan setiap malamku muncul berita-berita yang kurang mengenakan. Banyak
orang menyinggung masalah relasi. Banyak orang sedang menikmati bergosip tentang
kerelasian yang dialami oleh para penghuni tempat persemaian ini. Mereka
seolah-olah menemukan eksistensinya sebagai seorang laki-laki yang bisa
bergosip layaknya seorang perempuan pada umumnya.
Pada prinsipnya, relasi bukanlah sesuatu yang
salah, bukan sesuatu yang jahat. Relasi ialah sarana untuk menghubungkan satu
orang dengan orang yang lain. Alat dari relasi itu sendiri ialah komunikasi,
entah komunikasi dalam bentuk tulisan maupun verbal. Relasi memungkinkan orang
mengalami kepenuhan diri; saling melengkapi satu sama lain. Dalam berelasi kita
juga bisa belajar banyak hal; membagikan pengalaman kita, menerima pengalaman
orang lain yang bisa jadi berguna untuk diri kita sendiri.
Sayang, keindahan sebuah relasi sedikit terusik
dengan “budaya” yang sudah terlanjur menjamur di tengah masyarakat. Budaya ngrasani . Budaya ini tampaknya sudah
sangat sulit dihapuskan dari keagungan relasi. Jauh di lubuk hatiku, sebenarnya
aku bertanya-tanya; mengapa ada budaya ngrasani?
Apa fungsi dan kegunaan dari ngrasani?
Mungkin pertanyaan semacam ini sedikit sok
suci, karena dalam melakukan tindakan ngrasani
kita tidak pernah berpikir sampai di situ. Ya, karena kita terlalu asik dengan ngrasani.
Lalu, apa kaitannya relasi dan ngrasani? Pertama, huruf terakhir dari
kedua kata ini adalah ‘i’. Kedua, ngrasani
bisa dianalogikan sebagai “garam” yang mampu menciptakan rasa yang lebih
kentara. Ia dapat membuat hubungan relasi lebih “mendalam” dan mampu menjadi
materi pembicaraan dikala sedang krisis bahan diskusi. Ketiga, ngrasani dapat menjadi tanda bahwa orang
tersebut sedang mengalami sindrom iri hati. Keempat, ngrasani juga dapat menjadi kesempatan untuk berlatih membuat
cerpen. Mungkin karena mereka males menulis atau mengetik, maka ekspresi mereka
disalurukan melalui dunia verbal. Kelima, ngrasani
juga merupakan usaha untuk lebih mendalami tentang dunia perkepoan di dunia
maya. Kita tidak bisa memungkiri bahwa saat ini dunia maya menjadi tolak ukur status
hidup, status hati, bahkan status relasi dengan orang lain. Maka, tidak heran
para pelaku ngrasani memanfaatkan
media ini.
Demikianlah pemaparan dari saya mengenai dunia
relasi dan ngrasani. Dengan segala
kerendahan hati, saya mohon maaf apa bila ada salah-salah kata atau ketik dalam
tulisan ini. Semoga tulisan semakin menyadarkan kita bagaimana harus bersikap. Sengaja,
saya tidak memberikan kesimpulan yang amat jelas dari tulisan ini, hal ini
dimaksudkan supaya teman-teman dapat merenungkan secara pribadi dan dibawa
dalam doa.
Mengapa kita lebih mudah ngrasani, daripada berefleksi?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar